Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 April 2018

Wanita Pemakan Jantung (Aklatul Akbad)


Hindun adalah wanita yang fasih bicaranya, pemberani, kuat dan berjiwa besar, pemikir, penyair, dan bijak.

Ini adalah kisah kelam seorang shahabiyat bernama Hindun binti ‘Utbah bin Rabi’ah bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf Al-Umawiyah Al-Qurasyiyyah. Ibunya bernama Shafiyyah binti Umayyah bin Haritsah bin Al-Auqashi bin Murrah bin Hilal bin Falih bin Dzikwan bin Tsa’labah bin Bahtah bin Salim.
Hindun adalah salah seorang wanita Arab yang memiliki sifat yang luhur. Beliau adalah wanita yang fasih bicaranya, pemberani, kuat dan berjiwa besar, pemikir, penyair, dan bijak. Beliau telah mengangkat kemuliaan dirinya dan nasabnya. Putra beliau, bernama Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhu, bercerita tentang beliau, “Ibuku adalah wanita yang sangat berbahaya di masa Jahiliyah. Ketika beliau masuk Islam, beliau menjadi seorang wanita yang baik lagi mulia.”
Imam Ibnu ‘Abdil Barr berkomentar tentang Hindun, “Beliau adalah seorang wanita yang berjiwa besar dan memiliki kehormatan.”
Ayahnya menikahkan beliau dengan Fakihah bin Mughirah Al-Makhzumi. Dari pernikahan tersebut, beliau melahirkan dua anak. Akan tetapi, setelah itu keduanya bercerai. Kemudian beliau menikah dengan Abu Sufyan bin Harb.
Hindun memiliki ambisi yang serius terhadap sesuatu yang dia yakini bahwa dirinya mampu meraihnya. Di antara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa suatu ketika orang-orang melihatnya sedang bersama putranya yang bernama Mu’awiyah. Lalu ketika itu mereka bergumam, “Jika anak ini sudah besar, kelak ia akan memimpin kaumnya.”
Pujian tersebut tidak membuatnya besar hati. Bahkan dengan rasa tidak puas dan ingin mendapatkan yang lebih dari itu, maka Hindun berkata, “Celakalah dia jika hanya menjadi pemimpin kaumnya saja.”
Ketika terjadi perang Badar Al-Kubra, ayah Hindun, pamannya yang bernama Syaibah, dan juga saudaranya yang bernama Al-Walid terbunuh. Hal ini menyebabkan tumbuhnya rasa dendam yang membara di hati Hindun. Ketika di pasar Ukazh, beliau menangis sehingga membuat Al-Khansa keheranan, “Apa yang membuatmu menangis wahai Hindun?” Hindun pun menjawab dengan melantunkan bait syair,
            Aku menangis karena rasa sakitnya dua luka
            Menjaga keduanya dari perusak yang akan membinasakannya
            Aku menangis karena ayahku Utbah yang telah berbuat baik
            Duhai celakanya Ketahuilah
            Juga karena Syaibah yang telah menjaga yang patut untuk dibela
            Mereka itulah keluarga yang mulia di atas rata-rata keluarga
            Di saat kewibawaan mulai tumbuh berlipat ganda
Ketika perang Uhud, Hindun bin Utbah memainkan peranan sebagai juru perang yang handal. Beliau berangkat bersama kaum musyrikin Quraisy dan ketika itu pemimpin mereka adalah suaminya yakni Abu Sufyan. Hindun mengobarkan semangat perang kepada pasukan Quraisy bersama para wanita musyrikin lainnya sembari memukul rebana dan bersyair,
Kami adalah wanita-wanita jalanan
            Yang berjalan membawa bantal yang empuk
            Jika kalian maju kami peluk
            Jika kalian lari akan kami cerai
Dia juga mengulang-ulang syair,
Wahai Bani Abdi Dar
            Wahai para pejuang
            Pukullah dengan segala senjata yang tajam
Pada peristiwa itu nama Hindun tertulis dalam lembaran yang hitam kelam yang tak pernah dilupakan oleh sejarah. Catatan tersebut berupa perlakuannya terhadap Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, bapak sekaligus penghulu para syuhada’. Sebelum berangkat perang Uhud, Hindun memerintahkan budaknya yakni Al-Wahsyi bin Harb untuk membunuh Hamzah karena ingin membalaskan dendamnya atas kematian ayah dan pamannya. Jika budaknya berhasil, Hindun menjanjikan kemerdekaan baginya. Api permusuhan senantiasa berkobar di dadanya sehingga dia berkata kepada budaknya, “Wahai Abu Dasmah, obatilah aku! Sembuhkanlah luka hatiku!”
Tidaklah mengherankan ucapan tersebut keluar dari lisan seseorang yang menyimpan dendam kesumat. Akan tetapi hal yang tidak dapat diterima adalah perlakuannya yang tidak wajar terhadap mayat pahlawan yang syahid. Setelah Al-Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, Hindun segera menghampirinya dan memotong hidung dan kedua telinganya. Kemudian dia merobek perut Hamzah dan mengambil jantungnya lalu mengunyahnya. Hanya saja dia tak kuasa untuk menelannya sehingga dia meludahnya kembali. Lalu dia naik ke atas bukit dengan perasaan puas dan berteriak dengan suara yang lantang,
Telah kami balas kekalahan kami di perang Badar
            Perang demi perang terus berkobar
            Tiada bersabar diriku atas kematian Utbah ayahku
            Tidak juga saudara dan pamanku
            Telah kuobati luka hatiku dan telah kutebus nadzarku
            Wahsyi telah hilangkan rasa dahaga di hatiku
            Terima kasihku kepada Wahsyi terhadap umurku
            Hingga terkelupas dagingku di dalam kuburku
Hindun juga berkata,
            Telah terobati dendamku terhadap Hamzah di perang Uhud
            Hingga kuambil jantungnya dengan merobek perutnya
            Sirna sudah rasa sakit di hati
            Dari kegundahan yang tiada terperi
Begitulah, hingga Hindun mendapatkan gelar yang sangat mengganggunya. Bahkan masih terus terngiang-ngiang di telinganya setelah keislamannya yakni julukan Aklatul Akbad (wanita pemakan jantung).

Diketik ulang dari Mereka Adalah Para Shahabiyat (terjemah), karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005, hal. 213-220.

Teladan dalam Kesabaran

 Beliau bersabar dengan musibah kematian anak tercintanya. Hal ini berkebalikan dari umumnya keadaan wanita tatkala sedang dilanda ujian.
Sosok yang akan dikisahkan dalam tulisan ini adalah ibunda Anas bin Malik radhiyallaahu anhum. Beliau bernama Rumaisha’ binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenal dengan nama kunyahnya yakni Ummu Sulaim.
Ummu Sulaim merupakan salah satu shahabiyat yang mulia. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar. Sejarah pernikahan beliau dengan Abu Thalhah telah masyhur dan telah dicatat oleh tinta sejarah sebagai sejarah mahar paling mulia. Karena mahar pernikahan beliau adalah dengan masuk Islamnya Abu Thalhah.
Kali ini, akan kami sampaikan kisah lain yang tak kalah menakjubkan dari Ummu Sulaim. Dari cerita ini, kita akan belajar bagaimana mestinya sikap seorang muslimah tatkala menghadapi musibah yang menimpanya. Berikut ini kisahnya.
Dari pernikahan Ummu Sulaim dan Abu Thalhah, Allah karuniakan seorang anak laki-laki yang menjadi penyejuk mata bagi keduanya. Anak tersebut diberi nama Abu Umair. Suatu ketika, Abu Umair terserang penyakit sehingga membuat kedua orang tuanya sibuk merawatnya. Karena rasa sayang Abu Thalhah yang besar kepada anaknya, tiap kali ia kembali dari pasar, hal pertama yang ia lakukan adalah menanyakan kesehatan anaknya. Beliau belum merasa tenang sebelum mengecek kondisi anaknya.
Pada suatu hari, Allah mewafatkan Abu Umair. Di saat yang bersamaan, Abu Thalhah sedang berada di masjid sehingga tidak mengetahui kabar kematian anaknya. Sang ibu, Ummu Sulaim, menerima takdir tersebut dengan jiwa yang ridha dan bersabar. Beliau membaringkan anaknya di ranjang sembari mengulang-ulang kalimat istirja (Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun). Beliau berpesan kepada anggota keluarganya, “Janganlah kalian menceritakan ini kepada Abu Thalhah hingga aku sendiri yang bercerita kepadanya.”
Tatkala Abu Thalhah kembali ke rumah, Ummu Sulaim mengusap air matanya. Kemudian beliau bersemangat menyambut suaminya dan menampakkan bahwa tidak terjadi apa-apa di rumah. Ketika beliau ditanya tentang keadaan Abu Umair, maka beliau menjawab, “Dia dalam keadaan tenang.”
Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah kembali sehat sehingga beliau bahagia dengan kabar tersebut. Beliau tidak mau menengok langsung anaknya karena khawatir akan mengganggu ketenangannya.
Ummu Sulaim menyiapkan jamuan makan malam yang lezat untuk suaminya. Ketika suaminya sedang makan dengan lahap, Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan yang lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya. Beliau mengenakan pakaian yang paling indah dan memakai wangi-wangian. Malam itu keduanya berbuat sebagaimana layaknya suami istri.
Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan puas dengan pelayanannya serta merasa tenang terhadap keadaan anaknya, maka beliau memuji Allah dan membiarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.
Di akhir malam, beliau berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga. Kemudian, suatu ketika mereka mengambil titipan tersebut. Maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk menolak mengembalikan barang titipan?” Abu Thalhah menjawab, “Tentu saja tidak boleh.” Kemudian Ummu Sulaim bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut merasa keberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah memanfaatkannya?” Abu Thalhah menyahut, “Berarti mereka tidak adil.” Lalu Ummu Sulaim menyampaikan kabar kematian ankanya, “Sesungguhnya anakmu adalah titipan dari Allah dan Allah telah mengambilnya. Maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu.”
Abu Thalhah tidak kuasa menahan amarah. Beliau berkata dengan marah, “Kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kau kabari tentang anakku?”
Beliau mengulang-ulang pertanyaan tersebut hingga akhirnya beliau mengucapkan kalimat istirja lalu bertahmid kepada Allah. Sehingga berangsur-angsur jiwanya menjadi tenang.
Keesokan harinya, Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan tentang kejadian yang telah berlalu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda,
بارك الله لكما في ليلتكما
“Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.”
Mulai saat itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak. Tatkala beliau melahirkan, beliau mengutus Anas bin Malik untuk membawanya menuju Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian Anas berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim telah melahirkan tadi malam.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut. Anas berkata, “Berikanlah nama baginya, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Namanya ‘Abdullah.”
Demikianlah potret keteladanan dari Ummu Sulaim. Beliau bersabar dengan musibah kematian anak tercintanya. Hal ini berkebalikan dari umumnya keadaan wanita tatkala sedang dilanda ujian. Mayoritas wanita ketika kehilangan orang-orang yang dicintainya, mereka meratap dan menangis dengan sejadi-jadinya. Padahal Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda bahwasanya meratapi mayit merupakan salah satu perkara Jahiliyah yang masih melekat pada umat beliau. (Diriwayatkan oleh Muslim no. 934)
Semoga Allah senantiasa merahmati Ummu Sulaim dan memberi kita taufiq untuk mencontoh beliau dalam kesabaran menerima ketentuan Allah.

Diketik ulang dari Mereka Adalah Para Shahabiyat (terjemah), karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005, hal. 177-186.

Putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam...Zainab



Zainab radhiyallahu ‘anha merupakan putri pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari istri beliau Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha
Zainab radhiyallahu ‘anha merupakan putri pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari istri beliau Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Zainab lahir sepuluh tahun sebelum ayahnya diangkat menjadi Nabi. Beliau tumbuh besar dalam keluarga nubuwwah dengan meneguk akhlaq dan perilaku kedua orang tuanya secara langsung. Ayahnya adalah Nabi terakhir yang diutus sebagai rahmat untuk semesta alam yang memiliki budi pekerti yang agung. Sedangkan ibunya adalah sayyidah wanita seluruh alam.
Di usianya yang masih muda, Zainab menikah dengan putra dari bibinya yang bernama Abul ‘Ash bin Rabi’. Beliau adalah laki-laki yang terpandang di Mekah dalam hal kemuliaan dan harta. Beliau juga pemuda Quraisy yang tulus dan bersih. Dari jalur bapak, nasabnya bertemu dengan Nabi pada ‘Abdi Manaf bin Qushai. Adapun dari jalur ibu, nasabnya bertemu dengan Zainab pada kakek mereka berdua yakni Khuwailid. Hal ini dikarenakan ibu dari Abul ‘Ash adalah Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah.
Meskipun masih belia, Zainab mampu membina rumah tangga bersama suaminya dengan baik sehingga tumbuhlah kebahagiaan dan ketentraman. Kebahagiaan tersebut semakin sempurna dengan lahirnya dua anak laki-laki yaitu Ali dan Umamah.
Suatu ketika, terjadilah peristiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia yakni diangkatnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi. Sang putri, Zainab, tentu bersegera menyambut seruan dakwah yang haq yang dibawa oleh ayahnya. Beliau jadikan dienullah sebagai pedoman hidup .
Pengangkatan Muhammad sebagai Nabi tersebut bertepatan dengan safarnya Abul ‘Ash. Tatkala suaminya kembali, Zainab menceritakan kejadian yang berlangsung selama suaminya pergi. Beliau mengira bahwa suaminya akan bersegera menyatakan keislamannya. Akan tetapi, suaminya malah diam dan tidak merespon.
Kemudian Zainab mencoba semua cara untuk meyakinkan suaminya. Sayangnya, suaminya menolak dan mengatakan , “Demi Allah, bukannya aku tak percaya dengan bapakmu, hanya saja aku tidak ingin jika dikatakan bahwa aku telah menghina kaumku dan mengkafirkan agama nenek moyangku karena ingin mendapatkan ridha istriku.”
Sejak itulah, kehidupan Zainab berubah menjadi sengsara. Beliau terpukul dengan reaksi suaminya yang tidak mau masuk Islam. Di samping itu, beliau harus tinggal di Mekah tanpa seorang pun yang mampu meringankan penderitaannya. Ayahnya telah berhijrah ke Madinah bersama para sahabat dan saudarinya yang lain. Sedangkan ibunya telah wafat menghadap Ar-Rafiqul A’la.
Tatkala terjadi perang Badar, kaum musyrikin mengajak Abul ‘Ash untuk memerangi kaum muslimin. Akhirnya, suaminya menjadi tawanan kaum muslimin. Tatkala Abul ‘Ash dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berpesan kepada para sahabat, “Perlakukanlah tawanan ini dengan baik.”
Karena suaminya tertawan, maka Zainab mengirimkan seseorang untuk menebus suaminya dengan harta yang diserahkan kepada ayah beliau beserta kalung pemberian ibu beliau tatkala beliau menikah dengan Abul ‘Ash. Tak henti-hentinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangi kalung tersebut karena teringat dengan istrinya yang setia yakni Khadijah. Zainab terpaksa merelakan kalung tersebut karena beliau tidak memiliki harta untuk menebus suaminya. Peristiwa yang mengharukan tersebut mengetuk hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Setelah Rasulullah terdiam beberapa saat beliau berkata kepada para sahabat dengan lembut, “Jika kalian melihat bahwa membebaskan tawanan tersebut dan mengembalikan harta tebusannya adalah sebuah kebaikan, maka lakukanlah”. Para sahabat semuanya menjawab, “Baik wahai Rasulullah.” Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil janji dari Abul ‘Ash agar membiarkan Zainab berhijrah ke Madinah karena Islam telah memisahkan hubungan antara keduanya.
Kembalilah Abul ‘Ash ke Mekah dalam keadaan lesu. Zainab yang menyambut kedatangan suaminya dengan riang gembira terheran-heran dengan kondisi suaminya. Abul ‘Ash berkata kepada istrinya sedangkan kepalanya tertunduk, “Aku datang untuk berpisah wahai Zainab!”. Zainab spontan menjadi sedih dan meneteskan air mata. Beliau bertanya dengan terbata-bata, “Hendak kemana? Untuk keperluan apa wahai suamiku yang kucintai?” Abul ‘Ash menjawab sedangkan kedua matanya menatap wajah istrinya, “Bukan aku yang akan pergi wahai Zainab. Tetapi, kamu lah yang akan pergi, ayahmu telah meminta kepadaku agar aku mengembalikanmu kepadanya karena Islam telah memisahkan hubungan di antara kita. Aku juga telah berjanji akan menyuruhmu untuk menyusul ayahmu dan tidak mungkin bagiku untuk memungkiri janji”.
Akhirnya, Zainab berangkat dari Mekah menuju Madinah, meninggalkan suaminya dengan perpisahan yang sangat menyedihkan. Akan tetapi, kaum Quraisy menghalangi perjalanan beliau. Mereka mencegah dan mengancam beliau hingga akhirnya gugurlah kandungannya karena saat itu beliau sedang hamil. Beliau memutuskan untuk kembali ke Mekah dan dirawat oleh Abul ‘Ash hingga kekuatannya pulih kembali. Saat beliau telah sehat dan orang Quraisy lengah, beliau keluar bersama saudara suaminya bernama Kinanah bin Ar-Rabi’ hingga berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan aman.
Enam tahun berlalu, tiba-tiba pada bulan Jumadil Ula tahun 6 Hijriyah Abul ‘Ash mengetuk pintu rumah Zainab. Tatkala Zainab membuka pintu, beliau seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Abul ‘Ash berkata, “Kedatanganku bukanlah untuk menyerah. Akan tetapi, saat aku pergi berdagang, tiba-tiba pasukan ayahmu yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah merampas barang bawaanku dan aku pun melarikan diri. Sekarang aku mendatangimu secara sembunyi-sembunyi untuk meminta perlindunganmu.” Zainab menjawab dengan rasa sedih dan iba, “Marhaban wahai putra bibi… Marhaban wahai ayah Ali dan Umamah…”.
Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat subuh, terdengar suara yang keras dari dalam kamar Zainab, “Wahai manusia, sesungguhnya aku melindungi Abul ‘Ash bin Rabi’.” Maka Rasulullah keluar seraya bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?” Para sahabat menjawab, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau melanjutkan, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah aku mengetahui hal ini sedikitpun hingga aku mendengar sebagaimana yang kalian dengar. Orang-orang beriman adalah tangan bagi selain mereka sehingga berhak memberikan perlindungan kepada orang yang dekat dengannya. Sungguh kita akan melindungi orang yang dilindungi oleh Zainab”.
Lalu masuklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui putri beliau, Zainab, seraya berkata, “Muliakanlah tempatnya dan jangan ia berbuat bebas kepadamu karena kamu tidak halal baginya”.
Selanjutnya Zainab memohon kepada ayahnya agar mau mengembalikan barang dagangan Abul ‘Ash. Maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju tempat dimana para sahabat sedang berkumpul. Beliau berkata, “Sesungguhnya laki-laki ini telah kalian kenal. Kalian telah menjarah hartanya. Jika kalian rela, maka kembalikanlah harta tersebut kepadanya dan aku menyukai hal tersebut. Namun jika kalian menolaknya, maka itu adalah fai’ (rampasan) yang Allah karuniakan kepada kalian. Apa yang telah Allah berikan kepada kalian, maka kalian lebih berhak terhadapnya.”
Para sahabat menjawab serentak, “Bahkan kami akan mengembalikan seluruhnya wahai Rasulullah”. Mereka pun menyerahkan semua harta Abul ‘Ash seakan-akan ia tak pernah kehilangan harta tersebut sama sekali.
Kemudian, Abul ‘Ash pergi meninggalkan Zainab menuju Mekah dengan membawa sebuah tekad. Tatkala kafir Quraisy melihat kedatangannya dengan membawa dagangan mereka beserta labanya, mulailah Abul ‘Ash mengembalikan hak kepada masing-masing pemiliknya. Kemudian beliau berdiri dan berseru, “Wahai kaum Quraisy, masih adakah di antara kalian yang hartanya masih berada di tanganku dan belum diambil?” Mereka menjawab, “Tidak. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Sungguh kami dapati bahwa engkau adalah seorang yang mulia dan menepati janji.” Kemudian Abul ‘Ash berkata, “Dengarkanlah, bahwa aku bersaksi bahwa tiada Illah yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku masuk Islam tatkala di Madinah, melainkan karena aku khawatir kalian menyangka bahwa aku hanyalah ingin membawa lari harta kalian. Maka, tatkala Allah mengembalikan barang dagangan kalian dan telah aku laksanakan tanggung jawabku, maka aku pun masuk Islam”.
Lantas Abul ‘Ash bertolak menuju Madinah sebagai seorang muslim. Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan Zainab kepada Abul ‘Ash sehingga keduanya kembali membangun bahtera rumah tangga dengan damai dan bahagia.
Setelah berlalu satu tahun, tibalah waktunya perpisahan yang tak ada perjumpaan lagi di dunia. Sebab, Zainab radhiyallahu ‘anha wafat pada tahun 8 Hijriyah. Beliau mengalami sakit yang masih membekas pada saat keguguran ketika beliau hendak berhijrah. Abul ‘Ash menangisi kepergian beliau hingga menyebabkan orang-orang di sekitarnya turut menangis. Kemudian datanglah ayah Zainab yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sedih dan beliau berkata kepada para wanita, “Mandikanlah dengan bilangan yang ganjil, tiga atau lima kali. Dan jadikanlah yang terakhir dengan menggunakan kapur barus atau semisalnya. Apabila kalian telah selesai memandikannya, beritahulah aku.” Tatkala prosesi mandi telah usai, beliau memberikan kain penutup seraya berkata, “Pakaikanlah ini kepadanya.”
Semoga Allah merahmati Zainab binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabar, berjuang, dan bermujahadah. Semoga Allah membalas amalan beliau seluruhnya dengan balasan yang terbaik.
***
Diketik ulang dari Mereka Adalah Para Shahabiyat (terjemah), karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005, hal. 107-113.